Sejarah Keraton Yogyakarta yang Kaya Kearifan

Keraton Yogyakarta merupakan salah satu keraton kesultanan yang masih berdiri hingga saat ini dan secara administratif termasuk dalam provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Keraton yang juga disebut sebagai Ngayogyakarta Hadiningrat ini kaya akan kearifan lokal yang telah dijunjung tinggi selama berabad-abad. Keraton Yogyakarta pun telah terkenal akan kejayaannya sejak masa dahulu. Berikut ulasan tentang sejarah keraton Yogyakarta.

 

Mosaik Sejarah Keraton Yogyakarta

 

  1. Lokasi Awal Berdirinya

Berdasarkan temuan sejarah, sekitar abad ke-16 menjelang akhir telah berdiri sebuah kerajaan yang letaknya berada di wilayah Pulau Jawa bagian tengah sedikit ke selatan. Kerajaan tersebut adalah Mataram Islam. Pusat kerajaan ini letaknya diperkirakan di sekitar tenggara daerah Yogyakarta saat ini (Kota Gede). Namun kemudian berpindah ke wilayah Jawa lain seperti Surakarta, Kartasura, Plered, dan Kerta.

 

  1. Pada Masa Penjajahan Belanda

Sejarah keraton Yogyakarta mulai kehilangan kendali atas kekuasaan ketika penjajah Belanda masuk ke Indonesia dan mengintervensi pemerintahan. Kedaulatan Kerajaan Mataram terancam, hingga menyebabkan munculnya berbagai perlawanan yang ditujukan untuk mengusir Belanda dari bumi Yogyakarta. Puncaknya adalah perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran mangkubumi dan tokoh lokal yang menyerang Belanda.

 

  1. Perjanjian Giyanti

Akibat perlawanan yang timbul, Belanda memutuskan untuk membuat kesepakatan demi menghindari perselisihan secara lebih jauh. Sejarah mencatat 13 Februari 1755 disepakati Perjanjian Giyanti dengan hasil berupa pembagian kekuasaan Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah. Pertama, berada di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan kedua bertempat di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Masing-masing keraton ini pun dipimpin oleh penguasa yang memiliki gelar berbeda.

 

  1. Perjanjian Jatisari

Sejarah keraton Yogyakarta berdiri sebagai hasil pembagian wilayah atas dasar Perjanjian Giyanti. Selain itu, perjanjian ini juga menghasilkan hasil kesepakatan lain yang dinamakan Perjanjian Jatisari. Bertepatan 15 Februari 1755, diadakanlah Perjanjian Jatisari yang memutuskan konsensus kebudayaan masing-masing kerajaan. Mulai dari perbedaan pakaian, seni pertunjukan rakyat, bahasa, hingga adat istiadat. Namun meskipun terdapat perbedaan, sejatinya kedua kebudayaan ini memiliki akar tradisi yang sama sehingga masih tetap serupa.

 

  1. Masa Berdikari dan Pembangunan

Masa berdirinya Keraton Yogyakarta secara diplomatik tercatat pada 13 Maret 1755. Di bawah tambuk kekuasaan pemimpin bergelar Sultan Hamengku Buwono I, dimulainya era berdikari bagi Keraton Yogyakarta. Pembangunan di segala lini kehidupan masyarakat mulai digalakkan. Di masa pembangunan itu pulalah keluarga kerajaan secara bertahap mulai menempati Keraton Yogyakarta. Hingga pada 7 Oktober 1756 atau 13 Sura 1682 dalam tahun penanggalan Jawa diperingati momen sebagai pengingat kali pertama masuknya keluarga kerajaan ke keraton.

 

  1. Kekuasaan Penjajah

Sejarah keraton Yogyakarta mengalami masa keemasan juga kemunduran, seiring berjalannya waktu. Apalagi ketika pemerintahan penjajah kembali menginvasi tanah air. Pada 20 Juni 1812, Inggris menyerang dan menduduki Keraton Yogyakarta. Pemimpin Sultan Hamengku Buwono II diharuskan turun dari tahta. Penerus tahta selanjutnya dipaksa menyerahkan kekuasaan sebagian wilayah ke tangan Inggris.

 

Wilayah itu menjadi Kadipaten Pakualaman dengan pemimpin Adipati Paku Alam I yang diangkat oleh Inggris.Namun ketika Indonesia sudah mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, baik Keraton Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman, keduanya pun menjadi bagian wilayah Republik Indonesia setelah kedua pemimpin mengakui kedaulatan Indonesia .

 

Itulah sekilas tentang sejarah keraton Yogyakarta yang hingga kini pun masih perkasa menjalankan roda pemerintahan di Yogyakarta. Dengan status sebagai daerah istimewa, Keraton Yogyakarta pun turut andil dalam menciptakan kehidupan sosial politik masyarakat provinsi Yogyakarta. Keberadaan keraton yang telah dijaga selama berabad-abad ini perlu dilestarikan sampai generasi mendatang.

About the author: admin

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *